Cerita Inspirasi 

Nama : Zahra Khairunnisa

NRP : G74100005

Laskar : 16

1. Cerita inspirasi yang berkenaan dengan diri sendiri

Peristiwa ini saya alami ketika saya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu, bel istirahat sudah berbunyi. Saya pun pergi ke kantin sekolah untuk membeli makanan. Harga makanan tersebut adalah Rp 600 (kalau saya tidak salah). Kemudian saya membayarnya dengan selembar uang Rp 1000. Mungkin karena sibuk melayani pembeli, bapak penjualnya memberikan empat keping uang Rp 500 sebagai kembalian, yang seharusnya adalah empat keping uang Rp 100. Saya bingung bercampur senang. “Wah lumayan nih, uang jajan jadi nambahHehehe. Ga usah dikembaliin ah.” kata hati saya saat itu. Tapi baru beberapa langkah saya beranjak dari kantin, saya dihantui perasaan bersalah. “Tapi kalau dipikir-pikir, kasian bapak itu jadi rugi… Lagian dosa nih…” kata hati saya lagi.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kantin dan mengembalikan uang kembalian yang salah itu. Saya segera menghampiri bapak penjual itu. “Pak, tadi uang kembaliannya salah, harusnya Rp 400, tadi bapak ngasihnya Rp 2000.” kata saya seraya menyerahkan empat keping uang Rp 500 yang tadi. “Wah, aduh makasih yah neng.Neng meuni bageur, padahal kalau neng mau, neng bisa aja bawa pulang uang itu. Nuhun pisan nya, neng.” kata bapak itu sambil menyerahkan uang kembalian yang benar, yaitu empat keping uang Rp 100. Agak sedih sih, nggak jadi dapet bonus uang jajan, hehe. Tapi saya senang melihat wajah bapak itu yang terlihat begitu senang dan bersyukur. Hati saya pun jadi tenang karena terhindar dari dosa. Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk jujur, kapan pun dan dimana pun.

Ini adalah cerita dari seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Tapi dia sudah bisa bersikap jujur, di usianya yang baru 10 tahun itu. Bagaimana dengan anda, yang kiranya sudah cukup dewasa ?

– Zahra Khairunnisa

2. Cerita inspirasi yang berkenaan dengan orang lain.

Saya punya teman, dia teman saya semasa SMP. Sebut saja namanya Edo. Bisa dibilang, Edo ini adalah murid yang spesial. Mengapa ? Karena dia adalah murid penyandang cacat pertama yang diterima di SMP saya, SMP terfavorit di kota Sukabumi.

Ya, dia tidak dikaruniai anggota tubuh yang lengkap. Edo tidak memiliki kaki. Sehari-hari, dia berjalan dengan menggunakan tangan. Tidak heran, banyak teman-temannya yang memandang rendah dirinya. Tapi apakah dia menjadi patah semangat ? Tidak sama sekali. Edo selalu semangat, dan bahkan berhasil menunjukkan bahwa dia memiliki kelebihan yang mengagumkan. Edo masuk ke SMP saya dengan beasiswa karena kepandaiannya. Dia juga sangat pandai bermain keyboard/piano. Setiap ada acara sekolah, Edo selalu ditunjuk untuk mengisi acara dengan permainan pianonya yang mengagumkan. Bahkan, walikota pernah memberikan penghargaan padanya. Kini, dia sudah lulus dengan nilai yang memuaskan.

Kadang kala, kita yang dianugerahi anggota tubuh yang lengkap, justru tidak banyak-banyak bersyukur. Padahal, jika seorang yang memiliki kekurangan saja bisa melakukan begitu banyak hal yang hebat, kenapa kita tidak ?

Jangan merasa bahwa anda adalah orang yang paling banyak menanggung kesedihan di dunia. Lihatlah, masih banyak orang yang menanggung beban hidup yang lebih berat, tapi mampu untuk hidup lebih baik. Bagaimana dengan anda ?

– Zahra Khairunnisa